Senin, 21 Mei 2012

Tolak Bala Menjadi Bala


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahanya lancar, mau jabatannya bertahan, mau punya wibawa dan ditakuti bawahan harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal atau pensehat spiritual, ditambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat di dunia pertelevisian kita, dan ironinya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Konsekwensi iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [An Najm 53;62];
"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)".

Menjadikan Allah yang ditaati segala aturan yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [Ali Imran 3;32]
" Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

dan hanya mencintai Allah semata [At Taubah 9;24].
" Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".

Bila tiga hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman.Iman yang istiqamah bila tidak dipelihara dengan mengadakan pembaharuan setiap waktu serta tidak pula terjaganya hati mudah sekali dimasuki oleh syaitan untuk menggelincirkannya dengan berbagai sikap, sifat dan aktifitas syirik.

Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi syirik yang tinggi yaitu mencari Tuhan lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar bagi ummat ini, diantaranya banyaknya bencana dan musibah akan dirasakan, disadari ataupun tidak hal itu diawali dari sikap yang menserikatkan Allah. Karenanya musibah yang datang di negeri ini, kemarau yang panjang sehingga sulitnya mendapatkan air, banyak pertanian yang tidak jadi, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati, kebakaran hutan dimana-mana, yang otomatis musim paceklik datang, harga barang-barang kebutuhan naik, sehingga masyarakat dalam keadaan panik dan susah mencari penghidupan, bila kemarau panjang Nabi menyarankan agar kita melaksanakan shalat minta hujan sebagai solusinya, minta pertolongan kepada Allah. Begitu juga ketiga musim hujan yang lama juga mendatangkan kesengsaraan kepada manusia, banjir terjadi dimana-mana merendam sekian daerah yang menyebabkan areal pertanian tidak dapat digarap, dengan curah hujan yang lebat kemungkinan longsor akan terjadi, jalan sebagai urat nadi transportasi terputus dan banyak aktivitas yang tidak optimal dilakukan.

Bencana lain seperti gagalnya panen, gempa bumi yang diiringi dengan tsunami juga akan menelan korban tidak sedikit, kerugian harta benda sulit diperkirakan ditambah lagi dengan susahnya kehidupan manusia. Hal itu hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran dan introsfeksi diri karena segala musibah selain merupakan gejala alam dia juga berkaitan erat dengan tingkah polah manusia, sikap hidup yang jauh dari agama Allah, ketaatan yang kamuflasi, kefanatikan yang sebenarnya kemunafikan dalam beragama, aqidah yang dikotori dengan syirik dan kemaksiatan;
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Ar Ruum 30;41].

Dengan datangnya bala atau bencana, ada upaya yang seharusnya dilakukan seorang manusia, baik yang berkaitan dengan gejala alam yaitu menserasikan alam ini sesuai dengan fithrahnya, dijauhkan dari segala yang dapat mendatangkan bencana seperti tidak melakukan penebangan dan perambahan hutan sembarangan dan menjaga keseimbangannya, sedangkan yang berkaitan dengan sikap kepribadian manusia maka harus kembali kepada konsep ketuhanan yaitu meningkatkan kualitas iman menjadi taqwa, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman;
”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.

Tradisi yang berlansung di negeri yang rawan bencana ini adalah, dikala bencana datang atau dalam rangka untuk melepaskan negeri dari marabahaya dilakukanlah riitual tolak bala yang dihiasi pula dengan atribut islam seperti membaca Shalawat, membaca Barzanji yang terkesan memang demikian yang diajarkan oleh Rasulullah. Pada sebuah tempat dibawalah sebuah perahu yang sarat dengan bahan makanan diadakan ritual khusus dibawah pimpinan seorang pawang atau dukun, diantarkan ke tengah lautan dengan maksud agar penghuni laut tidak murka, bencana yang berasal dari laut tidak datang.

Ada pula pada sebuah tempat masyarakat datang beramai-ramai, dilakukan penyembelihan hewan di bukit dengan bacaaan tahlil sekian ribu kali untuk mengusir kemarau panjang yang telah menelantarkan areal pertanian masyarakat, sehingga bukit itu semerbak dengan kemenyan dan berkabut karena asap yang beterbangan, ada kesan puas dan penuh harap dari yang datang supaya Allah melepaskan mereka dari musibah.

Pada waktu-waktu tertentupun dilakukan penyerahan hasil panen ke tempat-tempat tertentu seperti gunung, bukit, gua dan tempat-tempat keramat lainya sebagai tanda bersyukur atas panen yang sudah dilaksanakan, harapannya supaya hasil panen yang akan datang lebih dari hasil sekarang. Bila hal ini tidak dilakukan maka rasa takut kalau panen yang akan datang tidak baik, penyakit tanaman menyerang sehingga menyengsarakan kehidupan yang akan datang. Itulah tradisi masyarakat kita yang masih berlansung hingga kini, walaupun ada membawa-bawa simbul islam sebenarnya ritual itu jauh sekali dari ajaran islam, banyak hal-hal syirik yang mereka lakukan, maksud hati ingin menolak bala, menolak bencana dan musibah tapi dengan cara demikian malah akan mendatangkan bala.

Harapan seorang mukmin hanya boleh ditujukan kepada Allah bukan kepada yang lain, istilah tauhid disebut dengan tafaul. Tafa'ul artinya perkataan atau perbuatan yang dipergunakan untuk menggembirakan atau berupa sugesti, contoh tafa'ul yang dibolehkan yaitu memberi nama anak "Sugiharto" agar anaknyu jujur dan banyak harta. Memberi nama anak "Selamat" agar anak selamat hidupnya di dunia dan akherat, memberi nama anak Mukhlis agar kelak menjadi anak yang ikhlas dalam beribadah.

Sedangkan tafaul yang dilarang seperti pesta panen dengan acara tradisi, supaya panen yang akan datang cepat dan lebih meningkat. Membaca sajak al Barzanji agar selamat dalam perjalanan, orang hamil dilarang membunuh lipan agar tidak lahir anak yang cacat, orang hamil tidak boleh memancing agar nanti anaknya tidak sumbing, jangan berangkat hari tertentu supaya tidak mendapat kecelakaan.

Selayaknya seorang mukmin punya tauhid yang bersih tanpa tercemar oleh faham lainnya, sifat optimis menatap masa depan dibenarkan dalam islam selama tidak ada unsur tahayul dan syiriknya. Mengusir bala atau bencana boleh tapi jangan menyebabkan bencana pula karena salahnya sikap yang dilakukan, tidak boleh menyerahkan sesuatu berupa kurban ataupun sesajian kepada arwah, jin atau yang dianggap mendatangkan bencana karena hal itu tidak sesuai dengan keimanan seorang mukmin, sehingga wajar bila bencana dan musibah selalu datang di negeri ini karena ummatnya tenggelam dalam kesesatan aqidah walaupun shalat mereka lakukan, puasa dilaksanakan dan zakat ditunaikan, wallahu a'lam. .[Cubadak Solok, 27 Zulqaidah 1431.H/ 4 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar