Senin, 21 Mei 2012

Rusak Ibadat Karena Adat


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh adat tanpa adanya upaya untuk itu karena kita hidup di lingkungan orang-orang yang hidup dengan budaya adat dan tradisi yang sudah ada puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Orang merasa malu kalau sikap dan tindakannya bertentangan dengan adat, dan sangat marah sekali bila dikatakan kepadanya,"Tidak Beradat", tapi tidak begitu marah bila dia disebut "Tidak Beragama". Jauh sebelum islam hadir di Nusantara ini masyarakat kita sudah ada menganut suatu kepercayaan sebelumnya seperti Animisme dan Dinamisme, demikian pula merekapun telah menganut agama Hindu ataupun Budha sehingga sepak terjang kehidupannya tidak bisa lepas dari adat yang berbau agama sebelumnya, bukan tidak ada upaya da'wah yang dilakukan oleh para ulama dan da'i, tapi ketika gerakan da'wah itu digencarkan saat itu kita dalam penjajahan yang tidak menginginkan ummat ini cerdas sehingga para ulama dipenjara dan dibunuh sehingga ummat kehilangan petunjuk.

Tradisi itu dimiliki oleh setiap suku bangsa dengan coraknya masing-masing, yang dikenal dengan sebutan ”kebudayaan nenek moyang”. Pada saat ini sedang hangat-hangatnya agar generasi muda memelihara kelestariannya yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan kurafa. Otak tak dapat untuk berfikir, perasaan tak dapat untuk mempertimbangkan lagi, segalanya nampak baik, nampaknya praktek ibadah padahal praktek bid’ah,sehingga terjadilah percampuran antara ibadat dengan adat, yang haq dengan yang bathil. Sedangkan Allah telah memperingatkan dalam surat Al Baqarah ayat 42 sebagai berikut;

”Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan bathil,dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui”.

Tidak sedikit orang yang mengaku modern tetap bertahan pada prinsip adat peninggalan nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran agama, baik pedagang, pelajar maupun masyarakat umumnya masih saja mendatangi kuburan tua, atau gunung ataupun laut untuk mencari berkah agar usahanya lancar, studinya sukses dan jabatannya tetap diakui masyarakat.

Seorang insinyur yang mempunyai ilmu modern mengerahkan usahanya untuk menanam kepala kerbau di dasar bangunan yang sedang dilaksanakan, agar bangunan tersebut dapat kokoh dan bertahan lama. Dengan fikiran yang kiranya dapat dipertimbangkan akal sehat, walau sepuluh kepala kerbau yang dikubur di dasar bangunan itu, tetapi bahan-bahan bangunannya dikorup dan diselewengkan, serta tidak dikerjakan dengan ilmu yang benar, maka bangunan itu akan hancur dalam waktu singkat. Tetapi tanpa kepala kerbau kalau dikerjakan dengan ilmu yang benar, sesuai dengan perhitungan maka dapat dijamin kekokohan bangunan itu.

Walaupun demikian, tidak masuk akalnya tapi sulit untuk meninggalkan hal yang telah mendarah daging dihati pewaris tradisi, mereka punya prinsif sebagaimana yang dilukiskan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 170;
”Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, ”Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”, apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk di jalan yang lurus ”.

Bahkan ummat Nabi Ibrahim menyembah berhala karena ajaran nenek moyang mereka, sebagaimana dialoq dengan ayah dan ummatnya;
"Ketika ia Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?" Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Mereka menjawab: "(Bukan Karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu Telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,' [Asy Syu'ara 26;70-76]

Jadi penyembahan berhala yang dilakukan oleh ummat nabi Ibrahim bukan mereka tidak mengerti kalau hal itu tidak ada manfaatnya, namun semua dilakukan karena tuntutan adat dan sudah tradisi sehingga layak dilestarikan bahkan ada kepercayaan pula bila tradisi itu ditinggalkan maka akan datang kutukan atau laknat dari nenek moyang. Kita bisa saksikan bagaimana tradisi ketika ada orang yang meninggal dunia maka lebih banyak ritual adat yang dilakukan walaupun berbau ibadat seperti peringatan tiga hari , tujuh hari, seratus hari dan seribu hari yang menguras dana tidak sedikit, membuang waktu sekian jam sehingga meninggalkan pekerjaan penting lainnya, bila tidak dikerjakan oleh sahibul hajat maka dia akan dicap orang yang menyia-nyiakan keluarga yang sudah meninggal bahkan dianggap yang meninggal itu mati anjing, begitu kejam kecaman bagi orang yang tidak taat kepada adat.

Apalagi melaksanakan pernikahan secara adat, sungguh banyak prosesi yang harus dilalui oleh keluarga pengantin, sejak dari meminang dengan sekian kegiatan, saat pernikahan, ketika pesta pernikahan bahkan pasca pernikahan, semua prosesi itu harus dilakukan agar rumah tangga bahagia dikemudian hari. Salah satu prosesi yang tidak layak dipertahankan ialah penentuan bulan dan hari yang baik untuk acara pernikahan itu, sehingga ada bulan dan hari yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan, bila dilansungkan juga pada bulan dan hari itu maka akan mendatangkan kesialan pada rumah tangga tersebut.

Sebuah ritual juga harus digelar oleh orang pintar atau dukun ketika ada pesta atau mengadakan keramaian yang menghadirkan orang banyak, agar acara tersebut sukses sejak awal hingga akhir, cuaca cerah, hujan tidak datang maka diupayakan oleh pawang untuk menunda turunnya hujan atau mengalihkan kedaerah lain turunnya, kepercayaan ini semakin diyakini bila hal itu benar-benar terjadi, dan sebaliknya bila tidak dipakai pawang untuk mengamankan itu, maka sang pawangpun berupaya dengan pasukan jinnya untuk menurunkan hujan.

Sudah menjadi tradisi pula untuk mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal yang dikenal dengan tathayyur. Tathayyur ialah mempercayai adanya hal-hal kejadian tertentu yang dapat menyebabkan atau mengundang sial, dalam sekelumit kejadian pada Nabi Musa yang disabdakan Allah pada surat Al A'raf 7;131
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah Karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui".

Sebagai contoh dari tathayyur itu diantaranya adalah sebagai berikut;

a.Orang yang sedang berjalan lalu kopiahnya jatuh atau dia melihat orang
mengasung jenazah, dia menganggap akan datang kesialan pada dirinya.

b.Mendirikan rumah baru tanpa dipasang kelapa, padi, pisang, bendera dan
lain-lain, dianggap penghuni rumah kelak dapat kesialan.

c.Bila isteri yang sedang hamil membunuh lipan maka anaknya akan
berwatak lipan atau cacat.

d.Angka tiga belas dianggap mendatangkan kesialan sehingga kita tidak
menemukan tempat duduk nomor 13 di pesawat atau kendaraan lainnya
begitu juga tidak ada lantai 3 atau lantai 13 pada setiap hatel yang
mempercayai kesialan angka itu.

Ketika seorang remaja lebih dahulu mempelajari islam dengan baik maka ibadahnya akan baik dan adatnyapun terarah dengan nilai-nilai islam, tapi bila seorang lebih dahulu mengenal dan menjalankan adat maka islamnya tidak jelas dan ibadatnya rusak karena dihiasi dengan hal-hal syirik dan bid'ah. bukan berarti semua tradisi adat itu jelek, tetapi ambillah yang baik dan singkirkanlah yang tidak sesuai dengan ajaran islam, lalu kembalilah kepada ikrar ”Laa Ilaaha Illallah”. Tidak ada kebenaran yang wajib diikuti selain kebenaran yang datang dari Pemilik Kebenaran [Allah].

Terhadap adat apa saja seharusnya seorang muslim sangat selektif untuk memilah dan memilihnya, kita tidak mungkin menyingkirkan semua tradisi adat karena ada hal-hal positif yang bisa diambil, dan kitapun tidak bisa mengambil semua tradisi itu karena tidak sedikit tradisi itu yang berbau syirik, mengandung bid'ah, kurafat dan tahyul, layaknya ialah, kita ambil tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran islam kemudian kita singkirkan segala tradisi yang tidak cocok dengan nilai-nilai islam.

Bila kita masih juga berkutat dengan adat dan tradisi nenek moyang tanpa ada usaha untuk meninggalkannya maka bencana dan musibah atau bencana akan terus silih berganti turun kepada ummat ini tanpa ada yang dapat menangkisnya, wallahu a'lam, .[Cubadak Solok, 27 Zulqaidah 1431.H/ 4 Nofember 2010.M]

Referensi;
1. HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5. Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006


Ketika Kuburan Tempat Meminta


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Jangan kita menyalahkan Allah atas bencana yang menghantam bertubi-tubi terhadap negeri ini, kadangkala tidak ada waktu senggang dalam satu pekan, semuanya padat dengan agenda musibah yang harus diratapi, evakuasi penduduk ke tempat yang aman, relokasi tempat yang dianggap layak dihuni sehingga dijamin baik lagi jauh dari bencana hingga rehabilitasi mental penduduk pasca musibah, pokoknya negeri ini tidak lepas dirundung bencana.

Islam mengajarkan kepada kita agar ibadah yang dikerjakan hanya semata-mata ditujukan kepada Allah, jangan menserikatkan-Nya dengan apapun, do'a yang dipanjatkan lansung kepada-Nya tanpa perantara dengan siapapun, apakah orang shaleh, orang pintar ataupun dukun dan masjid digunakan untuk aktivitas ritual dan keumatan, sedangkan kuburan tempat bersemayamnya orang-orang yang sudah meninggal bukan tempat yang dikeramatkan, bukan tempat ibadah dan bukan pula tempat meminta, dan tidak pula tempat memohon do'a;
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”[Al Baqarah 2;186]

Manusia adalah makhluk yang dhaif [lemah] yang membutuhkan kekuatan diluar kekuatan yang dimilikinya yaitu kekuatan Ilahi yang kita kenal dengan do’a. Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan lain-lain.

Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Landasan dan tali yang dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang dapat mengabulkan do’a kecuali Allah”

Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkala ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah, ragu-ragu dan sebagainya.

Ketika al-Hasan bin al-Hasan bin Ali meninggal dunia, istrinya membuat kubah di atas kuburnya selama satu tahun, kemudian dibongkar. Lalu, mereka mendengar seseorang berteriak, "Apakah mereka tidak menjumpai apa yang hilang itu?" Kemudian ada orang lain yang menjawab, "Bahkan mereka sudah putus asa, kemudian kembali". Sebuah tuntutan agar kuburan tidak disalah fungsikan menjadi sesuatu tempat yang dikeramatkan. Nabipun tidak membenarkan kalau kuburan dijadikan tempat yang tidak pada tempatnya walaupun nampaknya baik dan bernuansa ibadah.

Aisyah r.a. mengatakan bahwa dalam keadaan sakit yang membawa kepada kematian, Nabi saw bersabda, "Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." Aisyah berkata, "Seandainya tidak karena sabda itu, niscaya mereka menampakkan kuburan beliau. Hanya saja aku khawatir (dalam satu riwayat: beliau khawatir atau dikhawatirkan kuburan itu dijadikan masjid."

Bila masjid sudah dijadikan sebagai masjid, maka banyaklah hal-hal yang tidak sesusai dengan ajaran islam dilakukan disana diantaranya pengkultusan terhadap yang meninggal, memuja dan meminta sesuatu kepada si mayat, hal itu tidak dibenarkan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang nasrani, Aisyah r.a. berkata, "Ketika Nabi sakit (yakni yang menyebabkan kematian beliau), ada sebagian di antara istri beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang ke negeri Habasyah. Kemudian mereka menceritakan keindahannya dan beberapa lukisan (patung) yang ada di gereja itu. Setelah mendengar uraian itu, beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, "(Sesungguhnya mereka itu, jika ada orang yang saleh di antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai lukisan dalam masjid itu. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat].

Kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan, disetiap kuburan orang-orang shaleh, orang-orang yang dianggap berjasa terhadap pengembangan agama ini apalagi dianggap wali Allah maka kubur mereka dijadikan tempat memanjatkan doa, tempat membaca Al Qur'an, tempat bernazar dan dijadikan sebagai wasilah [perantara] untuk menyampaikan maksud dari peziarah sehingga ziarah kubur yang dibolehkan dalam rangka untuk zikrul maut [mengingat kematian] jadi arena ritual syirik yang tidak dibenarkan dalam agama tauhid ini, tidak beda dengan orang-orang jahiliyyah ketika mereka menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa hal itu bukanlah bentuk penyembahan tapi sebagai perantara semata.

Ini adalah kepercayaan yang tidak diajarkan dalam islam walaupun nampaknya kegiatan ini islami yaitu mengadakan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan anggapan manusia adalah makhluk yang penuh dengan dosa dan kesalahan sehingga tidak pantas beribadah lansung kepada Allah karena tidak akan diterima ibadahnya itu oleh Allah. Seperti berwasilah kepada arwah orang yang dianggap shaleh sehingga mendatangi kuburannya untuk menyampaikan hal itu. Bahkan ada yang menjadikan benda sebagai wasilah seperti batu besar, gunung-gunung dan pohon-pohon besar. Segala bentuk wasilah apapun alasannya maka itu adalah syirik sebagaimana Allah berfirman dalam surat Az Zumar 39;3;
"Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar".

Muhammad bin Sulaiman At Tamimi berkata; "Berdo'a kepada wali untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah syirik...do'a kepada wali dan menjadikan mereka pemberi syafaat disisi Allah adalah syirik".

Tiga bentuk tawasul menurut Ibnu Taimiyyah, dua tawasul yang dibolehkan yang pertama yaitu seperti tawasul dengan jalan iman, melaksanakan yang wajib dan yang sunnah melalui ibadah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah 5;35;
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan".

Kedua tawasul dengan syafaat nabi Muhammad, ini juga dilakukan dengan lansung bukan kekuburan nabi, Allah sendiri mengajak ummatNya untuk berdo'a lansung kepada-Nya tidak ada perantara;

"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"[Mukmin 40;60].
Sedangkan tawasul yang tidak dibolehkan menurut Ibnu Taimiyyah yaitu dengan jalan meminta kepada orang-orang shaleh agar disampaikan maksudnya kepada Allah;

"Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya." Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti". [Al A'raf 7;56-57].

Ada tawasul yang tidak berasal dari syariat berarti hal ini tidak dibenarkan seperti tawasul syirik yaitu bersumpah dan berdo'a selain kepada Allah dalam rangka untuk melenyapkan bahaya dengan pakai jimat atau menyembelih hewan bukan atas nama Allah dan lain sebagainya. Tawasul bid'ah adalah tawasul dengan ucapan "Aku bertawasul dengan kemuliaan si Anu bin si Anu" melalui kuburan dan memuja-muja wali dan syaitan.

Mengagungkan orang shaleh yang ia jadikan sebagai wasilah atau penghubung dan pemberi syafaat juga terjadi kepada agama lain. Pada surat At Taubah ayat 30 Allah berfirman;

”Orang-orang Yahudi menjadikan Uzair anak Allah, dan orang Nasrani menjadikan [Isa] Al Masih sebagai anak Allah, itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka, meniru ucapan orang-orang kafir terdahulu. Allah mengutuk mereka, mereka menjadikan pendeta-pendeta dan paderinya sebagai Tuhan selain dari Allah”.

Bagaimana bencana dan musibah tidak datang kepada manusia di negeri bahkan di dunia ini kalau kemusyrikan selalu diperbuat, nampaknya ritual ibadah yang dilakukan padahal itu adalah penyelewengan aqidah dan pencemaran tauhid sehingga kemurkaan Allah sebagai balasannya, wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 27 Zulqaidah 1431.H/ 4 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006

Tolak Bala Menjadi Bala


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Indonesia adalah tempat yang subur untuk perdukunan. Negara ini seolah terbelenggu dengan perdukunan. Jual tanah saja harus pergi ke dukun, mau usahanya lancar, mau jabatannya bertahan, mau punya wibawa dan ditakuti bawahan harus pergi ke dukun. Walaupun mungkin sebutan dukun sekarang kalah populer dengan paranormal atau pensehat spiritual, ditambah lagi oleh mitos-mitos yang berkembang di nusantara ini, seperti orang hamil harus membawa gunting, angka 13 adalah angka sial, diperparah lagi oleh tayangan mistik dan klenik yang berkembang pesat di dunia pertelevisian kita, dan ironinya mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat.

Konsekwensi iman seorang mukmin adalah menjadikan Allah satu-satunya yang disembah [An Najm 53;62];
"Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)".

Menjadikan Allah yang ditaati segala aturan yang telah diwahyukan-Nya kepada hamba Allah yang mulia yaitu Muhammad saw [Ali Imran 3;32]
" Katakanlah: "Ta'atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir".

dan hanya mencintai Allah semata [At Taubah 9;24].
" Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".

Bila tiga hal tersebut tidak sesuai dengan yang dikehendaki maka perlu adanya perbaikan iman, inilah yang disebut dengan tajdiidul iman, pembaharuan iman.Iman yang istiqamah bila tidak dipelihara dengan mengadakan pembaharuan setiap waktu serta tidak pula terjaganya hati mudah sekali dimasuki oleh syaitan untuk menggelincirkannya dengan berbagai sikap, sifat dan aktifitas syirik.

Bila iman tauhid tercemar oleh syirik, ringan apalagi syirik yang tinggi yaitu mencari Tuhan lain selain Allah hingga riya’ dalam beribadah akan mendatangkan bahaya besar bagi ummat ini, diantaranya banyaknya bencana dan musibah akan dirasakan, disadari ataupun tidak hal itu diawali dari sikap yang menserikatkan Allah. Karenanya musibah yang datang di negeri ini, kemarau yang panjang sehingga sulitnya mendapatkan air, banyak pertanian yang tidak jadi, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati, kebakaran hutan dimana-mana, yang otomatis musim paceklik datang, harga barang-barang kebutuhan naik, sehingga masyarakat dalam keadaan panik dan susah mencari penghidupan, bila kemarau panjang Nabi menyarankan agar kita melaksanakan shalat minta hujan sebagai solusinya, minta pertolongan kepada Allah. Begitu juga ketiga musim hujan yang lama juga mendatangkan kesengsaraan kepada manusia, banjir terjadi dimana-mana merendam sekian daerah yang menyebabkan areal pertanian tidak dapat digarap, dengan curah hujan yang lebat kemungkinan longsor akan terjadi, jalan sebagai urat nadi transportasi terputus dan banyak aktivitas yang tidak optimal dilakukan.

Bencana lain seperti gagalnya panen, gempa bumi yang diiringi dengan tsunami juga akan menelan korban tidak sedikit, kerugian harta benda sulit diperkirakan ditambah lagi dengan susahnya kehidupan manusia. Hal itu hanya bisa dihadapi dengan penuh kesabaran dan introsfeksi diri karena segala musibah selain merupakan gejala alam dia juga berkaitan erat dengan tingkah polah manusia, sikap hidup yang jauh dari agama Allah, ketaatan yang kamuflasi, kefanatikan yang sebenarnya kemunafikan dalam beragama, aqidah yang dikotori dengan syirik dan kemaksiatan;
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" [Ar Ruum 30;41].

Dengan datangnya bala atau bencana, ada upaya yang seharusnya dilakukan seorang manusia, baik yang berkaitan dengan gejala alam yaitu menserasikan alam ini sesuai dengan fithrahnya, dijauhkan dari segala yang dapat mendatangkan bencana seperti tidak melakukan penebangan dan perambahan hutan sembarangan dan menjaga keseimbangannya, sedangkan yang berkaitan dengan sikap kepribadian manusia maka harus kembali kepada konsep ketuhanan yaitu meningkatkan kualitas iman menjadi taqwa, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman;
”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.

Tradisi yang berlansung di negeri yang rawan bencana ini adalah, dikala bencana datang atau dalam rangka untuk melepaskan negeri dari marabahaya dilakukanlah riitual tolak bala yang dihiasi pula dengan atribut islam seperti membaca Shalawat, membaca Barzanji yang terkesan memang demikian yang diajarkan oleh Rasulullah. Pada sebuah tempat dibawalah sebuah perahu yang sarat dengan bahan makanan diadakan ritual khusus dibawah pimpinan seorang pawang atau dukun, diantarkan ke tengah lautan dengan maksud agar penghuni laut tidak murka, bencana yang berasal dari laut tidak datang.

Ada pula pada sebuah tempat masyarakat datang beramai-ramai, dilakukan penyembelihan hewan di bukit dengan bacaaan tahlil sekian ribu kali untuk mengusir kemarau panjang yang telah menelantarkan areal pertanian masyarakat, sehingga bukit itu semerbak dengan kemenyan dan berkabut karena asap yang beterbangan, ada kesan puas dan penuh harap dari yang datang supaya Allah melepaskan mereka dari musibah.

Pada waktu-waktu tertentupun dilakukan penyerahan hasil panen ke tempat-tempat tertentu seperti gunung, bukit, gua dan tempat-tempat keramat lainya sebagai tanda bersyukur atas panen yang sudah dilaksanakan, harapannya supaya hasil panen yang akan datang lebih dari hasil sekarang. Bila hal ini tidak dilakukan maka rasa takut kalau panen yang akan datang tidak baik, penyakit tanaman menyerang sehingga menyengsarakan kehidupan yang akan datang. Itulah tradisi masyarakat kita yang masih berlansung hingga kini, walaupun ada membawa-bawa simbul islam sebenarnya ritual itu jauh sekali dari ajaran islam, banyak hal-hal syirik yang mereka lakukan, maksud hati ingin menolak bala, menolak bencana dan musibah tapi dengan cara demikian malah akan mendatangkan bala.

Harapan seorang mukmin hanya boleh ditujukan kepada Allah bukan kepada yang lain, istilah tauhid disebut dengan tafaul. Tafa'ul artinya perkataan atau perbuatan yang dipergunakan untuk menggembirakan atau berupa sugesti, contoh tafa'ul yang dibolehkan yaitu memberi nama anak "Sugiharto" agar anaknyu jujur dan banyak harta. Memberi nama anak "Selamat" agar anak selamat hidupnya di dunia dan akherat, memberi nama anak Mukhlis agar kelak menjadi anak yang ikhlas dalam beribadah.

Sedangkan tafaul yang dilarang seperti pesta panen dengan acara tradisi, supaya panen yang akan datang cepat dan lebih meningkat. Membaca sajak al Barzanji agar selamat dalam perjalanan, orang hamil dilarang membunuh lipan agar tidak lahir anak yang cacat, orang hamil tidak boleh memancing agar nanti anaknya tidak sumbing, jangan berangkat hari tertentu supaya tidak mendapat kecelakaan.

Selayaknya seorang mukmin punya tauhid yang bersih tanpa tercemar oleh faham lainnya, sifat optimis menatap masa depan dibenarkan dalam islam selama tidak ada unsur tahayul dan syiriknya. Mengusir bala atau bencana boleh tapi jangan menyebabkan bencana pula karena salahnya sikap yang dilakukan, tidak boleh menyerahkan sesuatu berupa kurban ataupun sesajian kepada arwah, jin atau yang dianggap mendatangkan bencana karena hal itu tidak sesuai dengan keimanan seorang mukmin, sehingga wajar bila bencana dan musibah selalu datang di negeri ini karena ummatnya tenggelam dalam kesesatan aqidah walaupun shalat mereka lakukan, puasa dilaksanakan dan zakat ditunaikan, wallahu a'lam. .[Cubadak Solok, 27 Zulqaidah 1431.H/ 4 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006

Senin, 14 Mei 2012

Cinta ditolak dukun bertindak


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Negeri yang penuh dengan syirik, kurafat dan tahyul ini membuat masyarakatnya mempercayai hal-hal yang berbau mistik, segala sesuatunya dipandang dan dikait-kaitkan secara ghaib yang melibatkan tokoh sentralnya yaitu dukun, kepercayaan ini mendarah daging pada penduduknya walaupun mereka sudah mengerti dari asfek ilmu hal itu tidak layak dipercayai, demikian pula mereka mengerti bahwa dari asfek agama yang demikian itu bertentangan dengan aqidah tauhid, tapi karena ini merupakan warisan nenek moyang, tradisi yang sudah turun temurun bila tidak mengikutinya tentu lain pula pandangan orang kepadanya, padahal itu semua menjauhkannya dari kebenaran islam yang otomatis memadamkan cahaya fithrahnya.

Cahaya fithrah; kesucian manusia telah mengakui Allah sebagai Ilah sejak dari alam ruh atau alam kandungan sebagaimana sabda Rasulullah,”Setiap bayi yang lahir dalam keadaan suci, maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi dan Nasrani”[HR. Bukhari]

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", [Al A'raf 7;172]

Bila syirik telah menjalar pada diri manusia, fitrahnya tercemar oleh noda-noda yang dapat merusak iman, bila syirik telah mendarah daging walaupun fithrahnya tidak menerimanya tapi diapun tidak mampu untuk menolaknya, apalagi lingkungan kondusif untuk itu maka segala aktivitasnya sarat dengan kesyirikan. Demikian pula halnya yang berkaitan dengan cinta mencintai hingga tegaknya sebuah rumah tangga, mereka selalu melibatkan kehebatan sang dukun atau orang pintar.
Perkawinan adalah bentuk paling sempurna dari kehidupan bersama, inilah pandangan ahli-ahli moral, hidup bersama tanpa nikah hanyalah membuahkan kesenangan semu atau sekilas waktu. Kebahagian hakiki dan sejati diperdapat dalam kehidupan bersama yang diikat oleh pernikahan. Firman Allah ”Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu pandang baik untukmu” [An Nisa’ 4;3], Rasulullah bersabda, ” Hai para pemuda, siapa diantara kamu yang sudah sanggup kawin, hendaklah dia menikah, karena perkawinan itu untuk memelihara pandangan mata agar tidak liar dan dapat memelihara keliaran nafsu birahi”.

Yang dimaksud mampu bukan sekedar umur saja, tetapi mencakup pada fisik dan psikologis, sehat rohani, jasmani, bertanggungjawab, berpengetahuan, cinta dan kasih sayang, serta agama harus menjadi pedoman yang kuat dalam menjadikan hidup keluarganya. Dunia perkawinan tidak hanya melulu merupakan ketentraman dan kesenangan, cukup banyak tantangan serta cobaannya. Bukan hanya cukup dalam hal materi saja yang menentukan seseorang untuk membina rumah tangga yang baik, juga suasana tentram dan harmonis.

Bagaimana akan mendatangkan rumah tangga yang bahagia, berkah dan bertabur rahmah, bila sejak awal rumah tangga itu melibatkan pihak ketiga yaitu orang pintar dijadikan sebagai dukun, sejak awal jatuh cinta peran syaitan sudah bermain disana, jampi-jampi menyeruak ke rumah orang yang dicintai, bau kemenyanpun semerbak menghiasi setiap malam jum'at yang dijadikan malam wakuncar, jimat agar sang kekasih tidak berpaling kepada orang lainpun selalu melekat di pinggang sang arjuna, air putih yang sudah dimantra-mantra jadi suguhan kepada sang kekasih bila ada waktu untuk berdua saja serta sejuta senjata pamungkas yang beraroma klenik untuk meraih simpati sang idola dijaga dengan sebaik-baiknya, sehingga dapat dipastikan calon isteri dapat dipersunting dalam waktu singkat.

Kadangkala untuk mengekalkan kesyirikan seseorang maka digunakan oleh syaitan agar mangsanya percaya dan yakin dengan segala pesan-pesannya dengan wirid harian yang tidak lepas dari bahasa Arab dan Al Qur'an, tidak jarang juga melakukan puasa sekian hari, shalat malam ditentukan hari dan waktunya, yang intinya ibadah yang dilakukan bukan karena Allah tapi karena sesuatu, maksudnya meruntuhkan hati calon isteri agar dia takluk di pangkuannya.

Padahal Allah memerintahkan kita beribadah kepada-Nya saja bukan kepada syaitan dan para dukun, hal ini jelas-jelas telah melencengkan ibadah yang sebenarnya, Allah berfirman dalam surat Al Kahfi 18;110
“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".
”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” [Al Baiyinah 98;5].

Bila pujaan hati gagal disunting karena kurangnya sajen yang dipersembahkan atau tidak lengkapnya persyaratan yang diberikan sehingga sang pacar memutuskan hubungan, dia menikah dengan orang lain, maka hal itu tidak bisa diterima, sakit hati akan berbalas dengan menyakitkan orang lain, bagaimanapun juga tidak ada istilah cinta ditolak, bila terjadi juga berarti pelecehan dan menginjak-injak harga diri, maka tunggulah pembalasannya, cinta ditolak dukun akan bertindak.

Mulailah sang dukun bekerja keras agar permohonan untuk menggagalkan pernikahan dapat dilakukan, sajian diperbanyak, kemenyan semakin mengebul, bunga dengan sekian ramuan disediakan, kehebatan dukun mulai dinampakkan dengan jalan menyakiti, menjadi gila hingga membunuh dengan santet dan guna-guna, intinya ini terjadi karena keinginan secara wajar untuk menyunting anak gadis orang tidak kesampaian.

Bagaimana negeri ini tidak mendapat bencana dan musibah dari Allah bila syirik dan kezhaliman merajalela di dalamnya, sejak awal berdirinya rumah tangga sudah dihiasi dengan syirik, hingga kelakpun syirik akan dilaksanakan dalam rangka memelihara kelanggelangan rumah tangga itu dengan istilah pekasih dan istilah-sitilah lainnya, padahal Rasulullah telah menyebutkan bahwa segala yang berkaitan dengan syirik itu berdosa dan akan mendatangkan malapetaka, Allah berfirman;
"Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan'[Al An'am 6;112].


Rasulullah bersabda"Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima" (HR. Muslim)

"Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw."(Abu Dawud)

"Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik" (HR. Ibnu Majah)

Jatuhnya manusia kelembah dosa sebangsa syirik dan kezhaliman lainnya karena memang tipudaya yang dilakukan oleh syaitan memakai kaki tangan para dukun. Memoles kesesatan agar tampak baik dan menarik hati adalah jurus abadi iblis dan antek-anteknya. Bahkan inilah jurus pertama iblis sebelum menggoda manusia untuk bergumul dengan dosa. Allah berfirman:
“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,” (Al-Hijr 39)

Maka setan menghiasi perbuatan keji terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan menyesatkan manusia. Ibnul Qayyim mengomentari ayat tersebut: “Di antara strategi iblis adalah menyihir akal secara kontinyu hingga terpedaya, tidak ada yang selamat darinya kecuali yang dikehendaki Allah. Dia menghiasi perbuatan yang hakekatnya menimbulkan madharat sehingga tampak sebagai perbuatan yang paling bermanfaat. Begitupun sebaliknya, dia mencitrakan buruk perbuatan yang bermanfaat sehingga nampak mendatangkan madharat…”

Selayaknya kita kembali kepada kehendak Allah agar hidup ini penuh dengan keberkahan yang didatangkan dari isi bumi dan langit sehingga hidup dalam keadaan baik, jauh dari syirik sehingga iman memang hanya mentauhidkan Allah semata, menjalankan ibadah hanya untuk tujuan mencari ridha Allah, maka sejarah telah membuktikan kepada kita, dunia ini akan terhindar dari bencana, tapi bila sebaliknya maka berbagai musibah dan malapetaka beruntun memuntahkan kemurkaannya, wallahu a'lam. .[Cubadak Solok, 26 Zulqaidah 1431.H/ 3 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros.blogspot.com






Jabatan hadiah dari jin


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Keinginan meraih sesuatu apalagi jabatan yang menggiurkan adalah hak semua orang, jabatan apa saja selain merupakan amanah juga sebagai prestise bagi pemangkunya sehingga tidak heran bila ada peluang untuk merebut kekuasaan itu orang rela mengorbankan apa saja, sehingga ada ungkapan yang mengatakan "Biar tekor asal kesohor", apalagi terjadinya ajang perebutan kekuasaan dan kepemimpinan sejak dari jabatan Presiden, Gubernur, Bupati, Anggota Dewan sampai jabatan kepala desa, kesempatan ini memberi peluang untuk berkompetisi bagi anak negeri untuk menunjukkan siapakah yang lebih unggul.

Dalam ajaran islam, jabatan bukanlah hadiah tapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah, sehingga seorang muslim dituntut untuk berhati-hati dalam memegang kekuasaan, karena kekuasaan cendrung membuat orang bertindak tidak adil, korup dan tidak konsekwen dalam kepemimpinannya, maka pemimpin yang demikian tidak akan bertahan lama karena andaikata dia berkuasa lama tentu kesengsaraan rakyat semakin lama dirasakan, seorang pemimpin harus adil, jujur dan konsekwen. Rasulullah menyatakan,"Andaikata Fatimah anakku mencuri maka dia akan ku potong tangannya". Bahkan seorang muslim itu pemimpin pada level tertentu;
Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang isteri pemimpin dan bertanggung jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat. [An Nisa' 4;58]

Seorang pemimpin bukan hanya bertanggungjawab terhadap jabatannya tapi dia juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakatnya hingga lapisan bawah, Umar bin Khattab menyatakan "andaikata ada kuda yang terperosok dalam sebuah lubang diperjalanan maka Umar bertanggungjawab tentang itu". Allah berfirman;
"Katakanlah: "Apakah Aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu. dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan." [Al An'am 6;164]

Begitu pentingnya sebuah kepemimpinan untuk kebaikan ummat ini, dia dituntut untuk adil dan bertanggungjawab untuk menjalankan roda jabatan yang telah dia emban, karen berat demikian sehingga ketika Abu Zar meminta jabatan Rasul tidak memberikannya dengan alasan sahabat yang satu ini termasuk orang-orang yang lemah sedangkan tugas kepemimpinan begitu berat, sampai Rasul juga menasehati para sahabatnya.

Rasulullah Saw berkata kepada Abdurrahman bin Samurah, "Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau menuntut suatu jabatan. Sesungguhnya jika diberi karena ambisimu maka kamu akan menanggung seluruh bebannya. Tetapi jika ditugaskan tanpa ambisimu maka kamu akan ditolong mengatasinya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Begitu besar konsekwensinya sebuah jabatan, wewenang dan kepemimpinan sehingga memang tidak semua orang mampu untuk memikulnya. Namun jabatan untuk masa sekarang menjadi rebutan dimana-mana karena fasilitas yang diterimanya sangat menggiurkan, gaji yang besar, mobil mewah, perjalanan dinas keliling dunia, rumah dinas dan serenceng kemudahan lainnya sehingga menggiurkan semua orang, sehingga untuk meraihnya dilakukan dengan berbagai cara sampai kepada istilah halal haram hantam, yang penting tujuan tercapai masalah cara tidak perlu diperdebatkan.

Berkaitan dengan hal itulah, tidak sedikit orang yang mengaku tokoh dan mampu memimpin menjajakan diri untuk dipilih dan didukung sebagai presiden, kepala daerah, anggota dewan dan jabatan lainnya, semuanya menjadi ngiler dengan jabatan itu sampai-sampai aqidah dikurbankan, agama dijual, harga diri dipertaruhkan asal tujuan dapat dicapai. Isu money politic dalam pemilu, pilpres, pilkada, pilkades sudah dianggap biasa, karena semua pasangan calon melakukannya bahkan dalih untuk membantu masyarakat dengan pemberian sembako memang sulit untuk diusut di meja hijau karena memang sudah zamannya begitu, kalau kita tidak ikut melakukannya tentu kalah bersaing dengan lawan.

Bukan itu saja, asap kemenyanpun berhembus dimana-mana apalagi saat kampanye berlansung sehingga masyarakat yang hadir terlena dengan orasi yang disampaikan kandidat, jimat-jimatpun di pasang dimana-mana, pada setiap sudut yang memungkinkan untuk mengamankan dan memenangkan sang kandidat, kartu nama sang kandidat yang beredar ke tangan masyarakat sudah dimantera-mantera oleh sekian dukun, dengan janji pasti menang dalam perebutan jabatan itu.

Rumah dukun setiap waktu wajib didatangi calon pemimpin yang sedang bertaraung ini dengan persembahan sesajian, disamping untuk melunakkan hati dukun dengan pemberian materi yang tidak tanggung-tanggung bahkan dijemput dengan mobil mewah untuk melihat kondisi medan peperangan yang akan dihadapi. Maka sesajian juga disuguhkan untuk jin yang dianggap mampu memenangkan pertarungan itu, dapat dipastikan bila persembahan kepada dukun dan jin melebihi persembahan lawan lain, apalagi dilakukan secara kontinyu dengan jadwad yang tepat maka kemenangan dianggap sudah di depan mata.

Memang tidak semua calon pemimpin menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran islam, banyak yang tampil bersih, tidak money politic dan kemenanganpun tanpa keterlibatan dukun, umumnya mereka adalah orang-orang yang berpengetahuan mendalam dan memiliki iman tauhid yang bersih, tapi biasanya orang yang memiliki kapasitas ini tidak mau berebut jabatan, tidak ambisius sehingga kembali jabatan itu diraih oleh orang yang bersahabat dengan dukun yang menggelincirkan imannya, padahal ilmu agama yang dimiliki tidaklah seberapa, iman yang dimiliki sangatlah dangkalnya, dengan berteman dengan dukun tentu saja lebih jauh kesesatan yang akan dimasuki, apalagi jabatan yang didambakan itu ditakdirkan Allah mereka pula yang meraihnya, sehingga kelak semakin semaraklah kemenyan di kantor sang penguasa, semakin seringlah dukun dan jin menjaganya, yang akhirnya sang penguasa semakin brutal menjalankan kepemimpinannya.

Sehingga wajar saja bila negeri kita ini ramai dengan bencana dan musibah karena jabatan yang diperoleh, kepemimpinan yang dilakukan semuanya melibatkan para dukun, para normal, orang-orang pintar yang kesemuanya itu berbuat karena keinginan jin untuk menyesatkan ummat manusia melalui sikap dan perbuatan syirik, bila kemusyrikan sudah menjadi tren di negeri itu maka tunggu saja azab Allah yang akan datang.

Selain bencana yang diberikan Allah maka syirik dapat menggugurkan amal shaleh sehingga segala kegiatan yang dilakukan walaupun berujud ibadah maka disisi Allah tidak akan dihitung dan tidak pula diperhitungkan, karena mereka telah mencemari pengabdian, telah mengingkari tauhid yang suci;
“ Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”[Az Zumar 39;65]

Allah mengharapkan kepada hamba-Nya bukanlah “Aksaru amalaa” banyaknya amalan, tapi adalah “Ahsanu amalaa” yaitu sebaik-baik amal yaitu amal yang ikhlas yang mengharap dan mencari ridha Allah. Walaupun meraih jabatan dan mencari kepemimpinan tidak dilarang kalau memang ada kapasitas seseorang disana, tapi cara meraihnya dengan keterlibatan jin, tim suksesnya para dukun, supporternya para normal sehingga wajar negeri ini ramai dengan bencana dan musibah, wallahu a'lam .[Cubadak Solok, 25 Zulqaidah 1431.H/ 2 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros.blogspot.com


Bisnis Berbau Kemenyan


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Mencari nafkah [ma'isyah] adalah aktivitas manusia dalam rangka memenuhi kehidupannya dengan bekerja, apapun jenis pekerjaan yang ditekuni selama baik dan halal adalah terpuji, apakah sebagai pedagang, petani, buruh, pegawai negeri, anggota dewan, polisi, tentara ataupun pengacara hingga menteri ataupun Presiden, kegiatan ini banyak mengandung pahala didalamnya, dengan ma'isyah seseorang berupaya untuk mencari yang halal karena memang demikian anjurannya,"Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti shalat, puasa, dll)''. (HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).

Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah mencontohkan kepada ummatnya pentingnya mencari rezeki yang halal, sebab barang haram akan mempengaruhi mental dan kepribadian seseorang. Idealnya, biarlah kita kaya raya asal semua diperoleh dari yang halal, namun sangat rusak seseorang bila sedikit atau banyak hartanya bergelimang dengan haram, baik haram zatnya, cara memperolehnya atau membelanjakannya, Allah memperingatkan kita semuanya melalui nabinya;

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”[Al Baqarah 2;172]

Berbagai bisnis digelar manusia dalam rangka memenuhi kehidupan,sejak dari buruh, sebagai tani, pedagang, pegawai, guru, dosen, anggota dewan, artis, bupati hingga jabatan tinggi sebagai kepala negara. Semua mata pencaharian adalah baik selama tidak menyimpang dari ajaran Allah, menjauhkan aktivitas bisnis yang berbau kemenyan, larut dengan jampi-jampi dan praktek syirik lainnya. Sebuah kepercayaan masyarakat islam yang terbenam dengan budaya jahiliyah, apakah mereka tinggal di kota ataupun di desa, apakah yang berpendidikan apalagi yang awam mempercayai bisnis dengan melibatkan orang pintar, tabib, para normal atau dukun.

Pembukaan sebuah usaha sudah dimulai dengan penyembelihan hewan minimal seekor ayam dengan istilah "mendarahkan'' tempat usaha, agar pekerjaan yang dilakukan di dalamnya mendatangkan keberuntungan dan terjauh dari kecelakaan kerja, bila terjadi kecelakaan kerja sementara tidak dilakukan penyembelihan hewan, maka dengan penuh penyesalan akan dikatakan bahwa semua itu karena tidak mengikuti tradisi yang sudah lama berlansung di negeri ini;

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".[Al Baqarah 2;170].

Ditambah lagi dengan menaburkan bunga sekian warna di sekitar tempat usaha lalu mengasapinya dengan kemenyan, menyiram pada sudut-sudut tempat usaha tersebut dengan air yang sudah dimantra-mantrai. Sering pula pada sebuah tempat usaha seperti toko, pabrik atau rumah seorang usahawan dipasang jimat, haikal dan jaljalut.

Haikal atau jaljalut adalah selembar kertas bergambar pedang Zulfikar yang saling menyilang, dikiri kananya terpampang dua buah perisai bertuliskan. Gunanya untuk menangkis serangan musuh seperti sihir, tenung, guna-guna, pencuri, kebakaran dan kemasukan jin. Termasuk juga untuk menangkis bencana banjir dan angin topan. Adapun tempat pemasangan di toko-toko, leher anak kecil, rumah tempat tinggal dan lain-lain.

Ini fungsinya sama dengan jimat hanya bentuk gambarnya saja yang khas sehingga menambah keyakinan akan kehebatan benda itu sebab ada pedang Rasulullah yang disebut dengan pedang zulfikar. Keyakinan ini masih banyak terdapat pada umat islam karena dangkalnya ilmu dan lemahnya iman. Sehingga wajar tanpa disangka-sangka berbagai bencana hinggap pada usaha tersebut atau yang dialami oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Kadangkala izin sebuah usaha atau bisnis bukan dari pemerintah setempat tapi dari orang pintar tadi, dengan keuntungan yang menggiurkan, dari usaha sederhana hingga dalam waktu singkat usaha tadi bisa mengalahkan usaha orang lain, bukan karena pelayanan dan manajemen yang baik tapi karena mendapat restu dari seorang guru yang memberikan sesuatu untuk dipelihara seperti memelihara babi, memelihara anjing atau binatang lain, kalau hewan piaraan itu dirawat, diperhatikan, diberikan sesuatu sebagai sesajennya maka usaha itu akan lancar dengan keuntungan tidak sedikit tapi bila diabaikan sarat-sarat yang telah disepakati dengan orang pintar tersebut maka usaha itu akan hancur berantakan.

Tidak ada orang yang mau bangkrut, hidup miskin dan menderita, semua orang ingin hidup senang, banyak uang dan kekayaan berlimpah, apalagi usaha yang ditekuni sudah mengalami puluhan tahun dengan dinamika jatuh bangun, sehingga untuk menjaga kelanggengan bisnis itu, sang usahawan rela mengorbankan iman dan aqidahnya dengan sikap, perbuatan dan amal-amal syirik, walaupun dia masih shalat, membayar zakat bahkan hingga menunaikan ibadah haji. Tapi usaha yang dilakukan itu jauh dari keberkahan Allah, bahkan mengundang bencana bagi diri, keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Bukan itu saja, syirik yang tergores dihati ummat berarti telah merusak keimanannya kepada Allah, kemurnian iman dan ibadahnya tidak dapat dipertanggungjawabkan, bahkan perbuatan ini tidak berampun, walaupun Allah mengampuni segala perbuatan dosa manusia dengan izinnya bila bertaubat, dan ini merupakan hak preogratifnya, selain itu syirik juga merupakan dosa besar;

“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”[An Nisa ‘ 4;48].

Demikian besarnya godaan materi dunia, biarlah aqidah sebagai taruhannya asal hidup dapat berkecukupan, tidak susah seperti orang lain walaupun dia disusahkan dengan urusan perdukunan yang harus dilakukan pembaharuan setiap pekan, sekali sebulan bahkan sekali enam bulan, bila tidak dilakukan maka usaha tadi berangsur-angsur hilang kemujarabannya. Kita tidak hanya melihat hal ini di desa-desa yang masyarakatnya awam sekali dari segi ilmu pengetahuan apalagi ajaran islam, tapi ini juga dilakukan oleh orang-orang yang berpengetahuan dan berpendidikan tinggi.

Bila hal ini berlansung tanpa adanya usaha dari pihak-pihak tertentu seperti ulama dan da'i untuk memberantasnya melalui da'wah dan penerangan maka tidak akan datang berkah dari Allah karena keimanan kepadanya sudah dicemari, bisa saja segala yang ada di daerah itu berupa gunung yang akan meletus membinasakan penduduknya, banjir dan longsor yang menenggelamkan atau tsunami yang akan meluluhlantakkan negeri itu sehingga tidak ada lagi keamanan dan ketentraman menunggu dunia ini.

Hidup akan tentram dan damai, bila memperoleh jaminan dari Allah sebagai penguasa alam semesta; sehingga tidak ada rasa takut dalam memelihara sarana kehidupan ini. Sangatlah sia-sia bila manusia terlepas dari jaminan Allah walaupun nikmat Allah masih diterima tetapi diiringi oleh turunnya murka dan laknat Allah. Sedangkan orang yang berada dalam jaminan penguasa atau raja saja hidupnya merasa enak, apalagi di bawah lindungan dan jaminan Allah, dalam surat Al A’raf 7;96 Allah berfirman;

”Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan juga ayat-ayat Kami itu, maka mereka Kami siksa disebabkan perbuatannya”.

Begitu banyak sejarah yang terbentang di belakang kita yang dapat diambil sebagai pelajaran, tadinya mereka jaya dibawah berkah Allah akhirnya hancur berantakan karena laknat Allah, tiada jalan lain untuk menjauhkan negeri ini dari murka Allah ialah kembali ke jalannya dalam segala urusan, singkirkan segala bentuk syirik, perkuat dan murnikan aqidah dari segala sesuatu yang dapat menyesatkannya, niscaya berkah Allah akan datang kembali, wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 25 Zulqaidah 1431.H/ 2 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros.blogspot.com


Minggu, 13 Mei 2012

Pengobatan Beraroma Syirik


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Tidak mengenal desa dan kota, bila ada yang menderita sakit lansung saja pengobatan dilakukan dengan perantara dukun, sudah diyakini benar bahwa sang dukun mampu menyembuhkan penyakit apalagi yang berkaitan dengan pekerjaan jin dan syaitan bahkan penyakit apa saja yang diderita fasien, dukun lansung menyebutkan bahwa itu penyakit karena jin, yang harus diobati dengan ritual tertentu.

Walaupun di desa atau di daerah itu ada dokter, bidan dan perawat yang sengaja ditempatkan pemerintah untuk mengobati masyarakat dalam rangka peningkatan kualitas kesehatan sehingga masyarakat setempat dapat menikmati kehidupan dengan baik. Ibu-ibu hamil terjaga kandungannya, anak-anak balita dapat pula menikmati kehidupan sehingga menekan kematian bayi dan ibu hamil di tempat itu.
Walaupun mereka datang jua ke puskesmas atau ke bidan desa untuk berobat secara medis tapi ketergantungan kepada dukun sangat kuat bahkan cendrung obat dari puskesmas tidak membantu penyembuhan dan anehnya obat dari dukun yang ampuh sehingga menambah keyakinan masyarakat bahwa berobat ke dukun itu mendatangkan kesembuhan.

Percaya ataupun tidak, banyak masyarakat yang datang ke rumah dukun untuk berobat bahkan dapat dibilang para pejabatpun tidak merasa bersalah untuk berobat kesana dengan membawa mobil dinas, dengan alasan, sudah sekian kali ke dokter tapi belum juga sembuh penyakit yang diderita, siapa tahu dengan dukun ini dapat jodoh kesembuhannya. Yang meruntuhkan pengobatan medis sehingga orang lebih percaya kepada dukun juga karena adanya para medis yang turut serta percaya berobat ke dukun, percaya tidak percaya ternyata dukun itu bisa menyembuhkan penyakit fasien dalam waktu singkat.

Nampaknya kepercayaan kepada pengobatan ke dukun bukan hanya masyarakat awam saja, kalau masyarakat awam yang tidak berpendidikan mungkin kita dapat memakluminya, tapi banyak yang datang juga masyarakat yang berpendidikan bahkan ada yang sarjana, sulit sekali melepaskan diri dari perdukunan ini walaupun tinggi tingkat pendidikan seseorang, untuk menghilangkan kesan kepercayaan kepada dukun maka status dukun diganti dengan orang pintar atau disebut juga dengan tabib dan para normal, yang intinya praktek pengobatan itu tidak lepas dari kemenyan, mantra-mantra dan bisikan dari syaitan sebagai perantaranya.

Diaknosa dukunpun harus dipatuhi dengan memberikan resep yang penuh jampi-jampi, sesuatu yang harus dilekatkan di pinggang dengan serenceng pantangan yang harus dipatuhi fasien. Sebenarnya dalam islam, hanya ada dua cara pengobatan, bila seseorang menderita sakit maka dia harus berobat secara medis, sejak dari pemberian pil dan kapsul hingga rawat intensif dan operasi. Bila penyakitnya karena gangguan jin dan syaitan, baik jin tersebut masuk sendiri ataupun karena diguna-guna maka pengobatannya dengan cara ruqyah, mengusir jin dari tubuh orang tersebut dengan bacaan ayat-ayat Al Qur'an.

Pengobatan dengan ruqyahpun disebut dengan ruqyah syariyah artinya ruqyah yang sesuai dengan syariat, hanya sebatas mengusir jin dari tubuh seseorang dengan bacaan Al Qur'an dan do'a-do'a yang diajarkan oleh Rasulullah, pengusiran jin dari tubuh manusia tadi tanpa melibatkan jin, bila ruqyah dengan melibatkan jin maka tidak beda dengan perdukunan yang disebut dengan ruqyah syirkiyah yaitu ruqyah yang ada unsur syiriknya.

Jangan heran bila fasien yang diobati tersebut ada beberapa penangkal yang dititipkan oleh dukun berupa jimat yang dilekatkan di tubuh seperti di pinggang, di pergelangan tangan atau paling tidak diletakkan dalam kantong dan sesuatu yang digantungkan atau ditempat tertentu di rumahnya, untuk meyakinkan seseorang maka jimat tersebut dihiasi dengan bahasa Arab dan tulisan Al Qur'an bahkan jampi-jampinyapun dengan menggunakan bahasa Arab atau Al Qur'an. Ini yang membuat masyakat islam semakin yakin dengan perdukunan, apalagi yang bertindak sebagai dukun juga adalah tokoh yang dikenal suka ke masjid, rajin beribadah, budi bahasanya baik, tidak menyaki orang, santun dalam bicara bahkan sering pula menyampaikan pengajian dan khutbah, hal ini menutupi aroma syirik yang ada pada pengobatan itu.

Jimat disebut juga tamimah yaitu kalung batu dan sebagainya, orang Arab meletakkannya pada leher anak untuk menampik penyakit dan menolak arwah jahat. Pengertiannya yaitu apa saja yang dipercayai dapat menolak bala atau dapat mendatangkan tuah, Rasulullah bersabda; "Sesunguhnyanya jampi-jampi dan guna-guna itu adalah syirik" [HR. Ahmad dan Abu Daud].

Adapun bentuk jimat itu beragam sesuai dengan zamannya seperti keris, batu akik, cincin, Al Qur'an yang digulung atau yang digantung, Al Qadhi Abu Bakar berkata; "Menggantungkan Al Qur'an sebagai jimat bukanlah sunnah, hanya yang ada pada sunnah itu ialah berzikir dengannya dan bukan menggantungkannya".

Umumnya masyarakat islam baik yang hidup di kota apalagi di desa yang tidak mengenal islam dengan baik mereka beranggapan menggunakan jimat adalah suatu kelaziman, ironinya mereka banyak yang berpendidikan tinggi tapi masih terbelenggu dengan hal-hal tradisional yang banyak mengandung syirik seperti jimat itu.

Keinginan melakukan pengobatan dengan dukun adalah karena mengikuti kehendak hawa nafsu tanpa mengacu kepada sandaran wahyu, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-Tuhan yang harus diikuti kemauannya. Ukuran kebenaran adalah hawa nafsu, bila nafsu mengatakan baik maka wajib diikuti, padahal semuanya itu menyesatkan manusia, selain itu adat atau tradisi di daerah itu membenarkan praktek perdukunan;

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang diturunkan Allah". mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?”[Luqman 31;21]

Segala tata aturan yang dibuat manusia yang kita kenal dengan moral, etika, tata susila dan adat kebanyakan terbentuknya didesak oleh hawa nafsu yang sesuai dengan keinginan pembuat aturan, itulah makanya segala moral, etika, tata susila dan adat banyak berbenturan dengan wahyu Allah. Isme adapun yang dibuat manusia, sejak dari moral, etika dan adat istiadat banyak yang tidak sesuai dengan ajaran Islam bahkan ada upaya untuk menghancurkan islam, tapi strategi lainpun dirancang, biarlah tetap dengan status muslim tapi dalam pengobatan masih suka ke dukun.

Ketika wahyu Allah diselewengkan, dicampuradukkan dengan sesuatu yang kotor maka segala hasil yang dicapainyapun tidaklah bersih, walaupun pengobatan yang dilakukan secara wajar melalui secara medis atau ruqyah tidak berhasil sembuh tapi tidak melakukan syirik maka itu lebih baik dari pada penyakit yang diderita sembuh dengan pengobatan yang mengorbankan aqidah tauhid, artinya lebih baik seseorang meninggal dunia karena tidak dapat sembuh dengan pengobatan medis dan ruqyah dan insya Allah perjuangan melawan penyakit itu akan dinilai sebagai syahid daripada sembuh tapi dengan pengobatan syirik.

Dengan dua sistim pengobatan yaitu secara medis dan secara ruqyah syariyah sebenarnya tidak ada peluang bagi dukun untuk beraksi, para dukun tidak akan kebagian fasien, praktek menyan dan hembusan-hembusan syaitan tidak akan laku lagi, tapi keimanan masyarakat islam masih penuh dengan hal syirik itulah yang menyuburkan perdukunan, apalagi hasil pengobatan itu dapat dilihat secara nyata dan cepat, penyembuhan ini sudah berlansung puluhan bahkan ratusan tahun sehingga sulit sekali untuk disingkirkan, apakah tidak wajar bila bencana dan musibah datang kepada masyarakat yang melakukan pengobatan dengan syirik begitu?.

Padahal ujian sakit yang diberikan Allah kepada hamba-Nya mengandung hikmah kebaikan yang banyak sekali, bila dapat sembuh maka kesembuhannya itu untuk beribadah selalu dan bila wafat maka kematiannya mendatangkan kebaikan pula padanya.

DR. Yusuf Al Qardhawi dalam bukunya Hak dan Kewajiban Bagi Sisakit menyebutkan peran orang yang sehat untuk menjenguk fasien dengan memberikan nasehat yang berguna. Ibnu Mas'ud berkata, "Saya pernah masuk ke tempat Rasulullah saw. ketika beliau sedang sakit parah, lalu saya belai beliau dengan tangan saya sembari berkata, 'Wahai Rasulullah, sakitmu sangat berat.' Beliau menjawab, 'Benar, sebagaimana yang diderita oleh dua orang diantara kamu.' Saya berkata, 'Hal itu karena engkau mendapat dua pahala?' Beliau menjawab, 'Benar.' Kemudian beliau bersabda:"Tidak seorang muslim yang ditimpa suatu gangguan berupa penyakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.".

Sudah selayaknya bagi seorang yang menjenguk saudaranya sesama muslim yang sakit untuk memberinya nasihat dengan jujur, menyuruhnya berbuat ma'ruf dan mencegahnya dari kemunkaran, karena ad-Din itu adalah nasihat, dan amar ma'ruf nahi munkar merupakan suatu kewajiban, sedangkan sakitnya seorang muslim tidak membebaskannya dari menerima perkataan yang baik dan nasihat yang tulus. Dan semua yang dituntut itu hendaklah dilakukan oleh si pemberi nasihat dengan memperhatikan kondisinya, yaitu hendaklah dilakukan dengan lemah lembut dan jangan memberatkan, karena Allah Ta'ala menyukai kelemahlembutan dalam segala hal dan terhadap semua manusia, lebih-lebih terhadap orang sakit. Dan tidaklah kelemahlembutan itu memasuki sesuatu melainkan menjadikannya indah, dan tidaklah ia dilepaskan dari sesuatu melainkan akan menjadikannya buruk.

Kelemahlembutan semakin ditekankan apabila si sakit tidak mengerti terhadap kebajikan yang ditinggalkannya atau kemunkaran yang dilakukannya, seperti terhadap kebanyakan putra kaum muslim yang tidak mengerti keunggulan Islam.

Oleh sebab itu, seseorang yang menjenguk orang sakit yang kebetulan tidak mau melaksanakan shalat karena malas atau karena tidak mengerti, yang mengira tidak dapat menunaikan shalat, karena tidak dapat berwudhu, atau karena tidak dapat berdiri, ruku', sujud, atau tidak dapat menghadap ke arah kiblat, atau lainnya, maka wajiblah si pengunjung mengingatkannya. Dia harus menjelaskan bahwa shalat wajib dilaksanakan oleh orang yang sakit sebagaimana diwajibkan atas orang yang sehat, dan kewajibannya itu tidak gugur melainkan bagi orang yang hilang kesadarannya. Dijelaskan juga bahwa orang sakit yang tidak dapat berwudhu boleh melakukan tayamum dengan tanah jenis apa pun, dan boleh dibantu dengan diambilkan pasir/tanah yang bersih yang ditempatkan di dalam kaleng atau tempat lainnya, juga bisa dengan batu atau lantai tergantung mazhab yang memandang hal itu sebagai permukaan bumi yang bersih.

Dalam hal shalat saja, bila fasien tidak mengerjakannya kita berkewajiban untuk mengingatkannya maka lebih dari itu untuk mengingatkan bahwa pengobatan yang beraroma syirik tidak diridhai Allah bahkan akan mendatangkan bencana dan musibah kepada fasien, keluarga dan masyarakatnya sebagaimana bencana yang datang bertubi-tubi di negeri ini karena penduduknya banyak melakukan praktek perdukunan.

Penyakit yang diderita seseorang untuk disadari bahwa itu semua kehendak Allah yang sedang berlaku padanya, maka sebaiknya pengobatanmu harus sesuai dengan cara-cara yang dikehendaki-Nya, dengan sakit seharusnya menjadikan seseorang untuk introsfeksi diri atas segala gerak hidup yang dilakukan selamanya ini dan menjadikan sehatnya kelak untuk semakin taat kepada Allah dengan menjauhkan diri dari hal-hal yang syirik, andaikata kehidupannya berakhir dengan kematian karena penderitaan sakit hari ini seharusnya dilalui juga dengan tetap mentauihidkan Allah, tidak melakukan pengobatan yang beraroma syirik walaupun akhirnya dengan takdir Allah sembuh juga, tapi tidak ada artinya bila tenggelam dalam kesyirikkan. wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 25 Zulqaidah 1431.H/ 2 Nofember 2010.M]

Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5. DR. Yusuf Al Qardhawi, Hak dan Kewajiban Terhadap Sisakit

Penulis Drs. St. Mukhlis Denros
Ketua Yayasan Garda Anak Nagari Sumatera Barat
Anggota DPRD Kabupaten Solok 1999-2009
Hak Cipta Dilindungi Allah Subhanahu Wata’ala
Tidak Dilarang Keras Mengkopi dan Menyebarkan Materi ini
dengan menyebutkan sumbernya; http://mukhlisdenros.blogspot.com