Senin, 21 Mei 2012

Rusak Ibadat Karena Adat


Oleh Drs. Mukhlis Denros

Kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh adat tanpa adanya upaya untuk itu karena kita hidup di lingkungan orang-orang yang hidup dengan budaya adat dan tradisi yang sudah ada puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Orang merasa malu kalau sikap dan tindakannya bertentangan dengan adat, dan sangat marah sekali bila dikatakan kepadanya,"Tidak Beradat", tapi tidak begitu marah bila dia disebut "Tidak Beragama". Jauh sebelum islam hadir di Nusantara ini masyarakat kita sudah ada menganut suatu kepercayaan sebelumnya seperti Animisme dan Dinamisme, demikian pula merekapun telah menganut agama Hindu ataupun Budha sehingga sepak terjang kehidupannya tidak bisa lepas dari adat yang berbau agama sebelumnya, bukan tidak ada upaya da'wah yang dilakukan oleh para ulama dan da'i, tapi ketika gerakan da'wah itu digencarkan saat itu kita dalam penjajahan yang tidak menginginkan ummat ini cerdas sehingga para ulama dipenjara dan dibunuh sehingga ummat kehilangan petunjuk.

Tradisi itu dimiliki oleh setiap suku bangsa dengan coraknya masing-masing, yang dikenal dengan sebutan ”kebudayaan nenek moyang”. Pada saat ini sedang hangat-hangatnya agar generasi muda memelihara kelestariannya yang penuh dengan bid’ah, tahyul dan kurafa. Otak tak dapat untuk berfikir, perasaan tak dapat untuk mempertimbangkan lagi, segalanya nampak baik, nampaknya praktek ibadah padahal praktek bid’ah,sehingga terjadilah percampuran antara ibadat dengan adat, yang haq dengan yang bathil. Sedangkan Allah telah memperingatkan dalam surat Al Baqarah ayat 42 sebagai berikut;

”Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan bathil,dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedang kamu mengetahui”.

Tidak sedikit orang yang mengaku modern tetap bertahan pada prinsip adat peninggalan nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran agama, baik pedagang, pelajar maupun masyarakat umumnya masih saja mendatangi kuburan tua, atau gunung ataupun laut untuk mencari berkah agar usahanya lancar, studinya sukses dan jabatannya tetap diakui masyarakat.

Seorang insinyur yang mempunyai ilmu modern mengerahkan usahanya untuk menanam kepala kerbau di dasar bangunan yang sedang dilaksanakan, agar bangunan tersebut dapat kokoh dan bertahan lama. Dengan fikiran yang kiranya dapat dipertimbangkan akal sehat, walau sepuluh kepala kerbau yang dikubur di dasar bangunan itu, tetapi bahan-bahan bangunannya dikorup dan diselewengkan, serta tidak dikerjakan dengan ilmu yang benar, maka bangunan itu akan hancur dalam waktu singkat. Tetapi tanpa kepala kerbau kalau dikerjakan dengan ilmu yang benar, sesuai dengan perhitungan maka dapat dijamin kekokohan bangunan itu.

Walaupun demikian, tidak masuk akalnya tapi sulit untuk meninggalkan hal yang telah mendarah daging dihati pewaris tradisi, mereka punya prinsif sebagaimana yang dilukiskan Allah dalam surat Al Baqarah ayat 170;
”Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, ”Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”, apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk di jalan yang lurus ”.

Bahkan ummat Nabi Ibrahim menyembah berhala karena ajaran nenek moyang mereka, sebagaimana dialoq dengan ayah dan ummatnya;
"Ketika ia Berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Apakah yang kamu sembah?" Mereka menjawab: "Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya". Berkata Ibrahim: "Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?, Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?" Mereka menjawab: "(Bukan Karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian". Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu Telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, Kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,' [Asy Syu'ara 26;70-76]

Jadi penyembahan berhala yang dilakukan oleh ummat nabi Ibrahim bukan mereka tidak mengerti kalau hal itu tidak ada manfaatnya, namun semua dilakukan karena tuntutan adat dan sudah tradisi sehingga layak dilestarikan bahkan ada kepercayaan pula bila tradisi itu ditinggalkan maka akan datang kutukan atau laknat dari nenek moyang. Kita bisa saksikan bagaimana tradisi ketika ada orang yang meninggal dunia maka lebih banyak ritual adat yang dilakukan walaupun berbau ibadat seperti peringatan tiga hari , tujuh hari, seratus hari dan seribu hari yang menguras dana tidak sedikit, membuang waktu sekian jam sehingga meninggalkan pekerjaan penting lainnya, bila tidak dikerjakan oleh sahibul hajat maka dia akan dicap orang yang menyia-nyiakan keluarga yang sudah meninggal bahkan dianggap yang meninggal itu mati anjing, begitu kejam kecaman bagi orang yang tidak taat kepada adat.

Apalagi melaksanakan pernikahan secara adat, sungguh banyak prosesi yang harus dilalui oleh keluarga pengantin, sejak dari meminang dengan sekian kegiatan, saat pernikahan, ketika pesta pernikahan bahkan pasca pernikahan, semua prosesi itu harus dilakukan agar rumah tangga bahagia dikemudian hari. Salah satu prosesi yang tidak layak dipertahankan ialah penentuan bulan dan hari yang baik untuk acara pernikahan itu, sehingga ada bulan dan hari yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan, bila dilansungkan juga pada bulan dan hari itu maka akan mendatangkan kesialan pada rumah tangga tersebut.

Sebuah ritual juga harus digelar oleh orang pintar atau dukun ketika ada pesta atau mengadakan keramaian yang menghadirkan orang banyak, agar acara tersebut sukses sejak awal hingga akhir, cuaca cerah, hujan tidak datang maka diupayakan oleh pawang untuk menunda turunnya hujan atau mengalihkan kedaerah lain turunnya, kepercayaan ini semakin diyakini bila hal itu benar-benar terjadi, dan sebaliknya bila tidak dipakai pawang untuk mengamankan itu, maka sang pawangpun berupaya dengan pasukan jinnya untuk menurunkan hujan.

Sudah menjadi tradisi pula untuk mempercayai hal-hal yang tidak masuk akal yang dikenal dengan tathayyur. Tathayyur ialah mempercayai adanya hal-hal kejadian tertentu yang dapat menyebabkan atau mengundang sial, dalam sekelumit kejadian pada Nabi Musa yang disabdakan Allah pada surat Al A'raf 7;131
"Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah Karena (usaha) kami". dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui".

Sebagai contoh dari tathayyur itu diantaranya adalah sebagai berikut;

a.Orang yang sedang berjalan lalu kopiahnya jatuh atau dia melihat orang
mengasung jenazah, dia menganggap akan datang kesialan pada dirinya.

b.Mendirikan rumah baru tanpa dipasang kelapa, padi, pisang, bendera dan
lain-lain, dianggap penghuni rumah kelak dapat kesialan.

c.Bila isteri yang sedang hamil membunuh lipan maka anaknya akan
berwatak lipan atau cacat.

d.Angka tiga belas dianggap mendatangkan kesialan sehingga kita tidak
menemukan tempat duduk nomor 13 di pesawat atau kendaraan lainnya
begitu juga tidak ada lantai 3 atau lantai 13 pada setiap hatel yang
mempercayai kesialan angka itu.

Ketika seorang remaja lebih dahulu mempelajari islam dengan baik maka ibadahnya akan baik dan adatnyapun terarah dengan nilai-nilai islam, tapi bila seorang lebih dahulu mengenal dan menjalankan adat maka islamnya tidak jelas dan ibadatnya rusak karena dihiasi dengan hal-hal syirik dan bid'ah. bukan berarti semua tradisi adat itu jelek, tetapi ambillah yang baik dan singkirkanlah yang tidak sesuai dengan ajaran islam, lalu kembalilah kepada ikrar ”Laa Ilaaha Illallah”. Tidak ada kebenaran yang wajib diikuti selain kebenaran yang datang dari Pemilik Kebenaran [Allah].

Terhadap adat apa saja seharusnya seorang muslim sangat selektif untuk memilah dan memilihnya, kita tidak mungkin menyingkirkan semua tradisi adat karena ada hal-hal positif yang bisa diambil, dan kitapun tidak bisa mengambil semua tradisi itu karena tidak sedikit tradisi itu yang berbau syirik, mengandung bid'ah, kurafat dan tahyul, layaknya ialah, kita ambil tradisi yang tidak bertentangan dengan ajaran islam kemudian kita singkirkan segala tradisi yang tidak cocok dengan nilai-nilai islam.

Bila kita masih juga berkutat dengan adat dan tradisi nenek moyang tanpa ada usaha untuk meninggalkannya maka bencana dan musibah atau bencana akan terus silih berganti turun kepada ummat ini tanpa ada yang dapat menangkisnya, wallahu a'lam, .[Cubadak Solok, 27 Zulqaidah 1431.H/ 4 Nofember 2010.M]

Referensi;
1. HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5. Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006


Tidak ada komentar:

Posting Komentar