Senin, 21 Mei 2012
Ketika Kuburan Tempat Meminta
Oleh Drs. Mukhlis Denros
Jangan kita menyalahkan Allah atas bencana yang menghantam bertubi-tubi terhadap negeri ini, kadangkala tidak ada waktu senggang dalam satu pekan, semuanya padat dengan agenda musibah yang harus diratapi, evakuasi penduduk ke tempat yang aman, relokasi tempat yang dianggap layak dihuni sehingga dijamin baik lagi jauh dari bencana hingga rehabilitasi mental penduduk pasca musibah, pokoknya negeri ini tidak lepas dirundung bencana.
Islam mengajarkan kepada kita agar ibadah yang dikerjakan hanya semata-mata ditujukan kepada Allah, jangan menserikatkan-Nya dengan apapun, do'a yang dipanjatkan lansung kepada-Nya tanpa perantara dengan siapapun, apakah orang shaleh, orang pintar ataupun dukun dan masjid digunakan untuk aktivitas ritual dan keumatan, sedangkan kuburan tempat bersemayamnya orang-orang yang sudah meninggal bukan tempat yang dikeramatkan, bukan tempat ibadah dan bukan pula tempat meminta, dan tidak pula tempat memohon do'a;
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”[Al Baqarah 2;186]
Manusia adalah makhluk yang dhaif [lemah] yang membutuhkan kekuatan diluar kekuatan yang dimilikinya yaitu kekuatan Ilahi yang kita kenal dengan do’a. Dalam Al Qur’an kita dapati 203 ayat yang menyebut kata do’a yang artinya bermacam-macam; ibadah, memanggil, memohon, memuji dan lain-lain.
Do’a yang dimaksud disini adalah menyeru, memohon dan mengharap sesuatu dari Allah yang Maha Pencipta. Landasan dan tali yang dimaksud itu ialah do’a disamping itu dia merupakan salah satu konsekwensi dari ma’na syahadat yaitu “Tidak ada yang dapat mengabulkan do’a kecuali Allah”
Berdo’a adalah suatu kebutuhan ruhaniah yang diperlukan manusia dalam kehidupan ini, lebih-lebih tatkala ditimpa kesusahan, kesulitan dan malapetaka. Ada ulama yang mengibaratkan do’a itu laksana obat bagi penyakit ruhaniah, berupa penyakit takut, cemas, resah, ragu-ragu dan sebagainya.
Ketika al-Hasan bin al-Hasan bin Ali meninggal dunia, istrinya membuat kubah di atas kuburnya selama satu tahun, kemudian dibongkar. Lalu, mereka mendengar seseorang berteriak, "Apakah mereka tidak menjumpai apa yang hilang itu?" Kemudian ada orang lain yang menjawab, "Bahkan mereka sudah putus asa, kemudian kembali". Sebuah tuntutan agar kuburan tidak disalah fungsikan menjadi sesuatu tempat yang dikeramatkan. Nabipun tidak membenarkan kalau kuburan dijadikan tempat yang tidak pada tempatnya walaupun nampaknya baik dan bernuansa ibadah.
Aisyah r.a. mengatakan bahwa dalam keadaan sakit yang membawa kepada kematian, Nabi saw bersabda, "Allah mengutuk orang-orang Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid." Aisyah berkata, "Seandainya tidak karena sabda itu, niscaya mereka menampakkan kuburan beliau. Hanya saja aku khawatir (dalam satu riwayat: beliau khawatir atau dikhawatirkan kuburan itu dijadikan masjid."
Bila masjid sudah dijadikan sebagai masjid, maka banyaklah hal-hal yang tidak sesusai dengan ajaran islam dilakukan disana diantaranya pengkultusan terhadap yang meninggal, memuja dan meminta sesuatu kepada si mayat, hal itu tidak dibenarkan, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang nasrani, Aisyah r.a. berkata, "Ketika Nabi sakit (yakni yang menyebabkan kematian beliau), ada sebagian di antara istri beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang ke negeri Habasyah. Kemudian mereka menceritakan keindahannya dan beberapa lukisan (patung) yang ada di gereja itu. Setelah mendengar uraian itu, beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, "(Sesungguhnya mereka itu, jika ada orang yang saleh di antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan masjid (tempat ibadah) di atas kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai lukisan dalam masjid itu. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat].
Kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan, disetiap kuburan orang-orang shaleh, orang-orang yang dianggap berjasa terhadap pengembangan agama ini apalagi dianggap wali Allah maka kubur mereka dijadikan tempat memanjatkan doa, tempat membaca Al Qur'an, tempat bernazar dan dijadikan sebagai wasilah [perantara] untuk menyampaikan maksud dari peziarah sehingga ziarah kubur yang dibolehkan dalam rangka untuk zikrul maut [mengingat kematian] jadi arena ritual syirik yang tidak dibenarkan dalam agama tauhid ini, tidak beda dengan orang-orang jahiliyyah ketika mereka menyembah berhala, mereka mengatakan bahwa hal itu bukanlah bentuk penyembahan tapi sebagai perantara semata.
Ini adalah kepercayaan yang tidak diajarkan dalam islam walaupun nampaknya kegiatan ini islami yaitu mengadakan perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan anggapan manusia adalah makhluk yang penuh dengan dosa dan kesalahan sehingga tidak pantas beribadah lansung kepada Allah karena tidak akan diterima ibadahnya itu oleh Allah. Seperti berwasilah kepada arwah orang yang dianggap shaleh sehingga mendatangi kuburannya untuk menyampaikan hal itu. Bahkan ada yang menjadikan benda sebagai wasilah seperti batu besar, gunung-gunung dan pohon-pohon besar. Segala bentuk wasilah apapun alasannya maka itu adalah syirik sebagaimana Allah berfirman dalam surat Az Zumar 39;3;
"Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar".
Muhammad bin Sulaiman At Tamimi berkata; "Berdo'a kepada wali untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah syirik...do'a kepada wali dan menjadikan mereka pemberi syafaat disisi Allah adalah syirik".
Tiga bentuk tawasul menurut Ibnu Taimiyyah, dua tawasul yang dibolehkan yang pertama yaitu seperti tawasul dengan jalan iman, melaksanakan yang wajib dan yang sunnah melalui ibadah, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Maidah 5;35;
" Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan".
Kedua tawasul dengan syafaat nabi Muhammad, ini juga dilakukan dengan lansung bukan kekuburan nabi, Allah sendiri mengajak ummatNya untuk berdo'a lansung kepada-Nya tidak ada perantara;
"Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina"[Mukmin 40;60].
Sedangkan tawasul yang tidak dibolehkan menurut Ibnu Taimiyyah yaitu dengan jalan meminta kepada orang-orang shaleh agar disampaikan maksudnya kepada Allah;
"Katakanlah: "Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, Maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkannya." Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti". [Al A'raf 7;56-57].
Ada tawasul yang tidak berasal dari syariat berarti hal ini tidak dibenarkan seperti tawasul syirik yaitu bersumpah dan berdo'a selain kepada Allah dalam rangka untuk melenyapkan bahaya dengan pakai jimat atau menyembelih hewan bukan atas nama Allah dan lain sebagainya. Tawasul bid'ah adalah tawasul dengan ucapan "Aku bertawasul dengan kemuliaan si Anu bin si Anu" melalui kuburan dan memuja-muja wali dan syaitan.
Mengagungkan orang shaleh yang ia jadikan sebagai wasilah atau penghubung dan pemberi syafaat juga terjadi kepada agama lain. Pada surat At Taubah ayat 30 Allah berfirman;
”Orang-orang Yahudi menjadikan Uzair anak Allah, dan orang Nasrani menjadikan [Isa] Al Masih sebagai anak Allah, itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka, meniru ucapan orang-orang kafir terdahulu. Allah mengutuk mereka, mereka menjadikan pendeta-pendeta dan paderinya sebagai Tuhan selain dari Allah”.
Bagaimana bencana dan musibah tidak datang kepada manusia di negeri bahkan di dunia ini kalau kemusyrikan selalu diperbuat, nampaknya ritual ibadah yang dilakukan padahal itu adalah penyelewengan aqidah dan pencemaran tauhid sehingga kemurkaan Allah sebagai balasannya, wallahu a'lam.[Cubadak Solok, 27 Zulqaidah 1431.H/ 4 Nofember 2010.M]
Referensi;
1.HM.As'ad El Hafidy, Kangker Tauhid, leh Media Da'wah Jakarta, 1990
2. Hadits Arbain An Nawawi, Sofyan Efendi, HaditsWeb 3.0,
3. Al Qur'an dan terjemahannya, Depag RI, 1994/1995
4. Kumpulan Ceramah Praktis, Drs. Mukhlis Denros, 2009
5.Fiqih Quran & Hadist Swaramuslim.net Okt 2004 - Maret 2006
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar